Warga Kota Asgard Berharap Pemimpin Baru Fokus pada Kemacetan dan Lapangan Kerja

Article Image

Kota Agard - Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Agard 2025, berbagai aspirasi dan harapan mengalir dari masyarakat. Dua isu utama yang paling sering dikeluhkan warga adalah persoalan kemacetan lalu lintas yang kian parah dan minimnya lapangan pekerjaan, terutama bagi generasi muda.

Keluhan Pedagang Pasar: Kemacetan Bikin Pembeli Ogah Datang

LIbu Siti Nurjanah (47), pedagang sayur di Pasar Sentral Agard yang telah berjualan selama 15 tahun, mengeluhkan dampak kemacetan terhadap usahanya. "Dulu pembeli ramai dari pagi sampai siang. Sekarang banyak yang malas datang karena macet. Mereka lebih pilih beli di minimarket dekat rumah meskipun lebih mahal," ujar Ibu Siti sambil menata dagangannya.

Ia berharap walikota terpilih nanti dapat mengatasi masalah kemacetan yang menurutnya sudah sangat mengganggu aktivitas ekonomi warga. "Kalau jalan lancar, pembeli pasti datang lagi. Kami pedagang kecil butuh pemimpin yang benar-benar peduli sama rakyat bawah," tambahnya dengan nada berharap.

Lulusan Baru Menanti Peluang Kerja

Senada dengan keluhan Ibu Siti, Budi Santoso (23), fresh graduate dari salah satu universitas di Kota Agard, mengungkapkan keresahannya soal sulitnya mencari pekerjaan. Sudah hampir enam bulan sejak wisuda, Budi masih menganggur meskipun telah mengirim puluhan lamaran kerja.

"Lowongan kerja di Agard sangat terbatas. Kalau ada pun, persyaratannya berat atau gajinya tidak sesuai. Banyak teman-teman saya yang akhirnya merantau ke kota besar," kata Budi saat ditemui di kawasan Taman Kota Agard.

Budi berharap pemimpin baru dapat membuka lebih banyak investasi dan mendorong pertumbuhan sektor industri kreatif yang bisa menyerap tenaga kerja muda. "Kami generasi muda punya ide dan semangat, tapi butuh kesempatan. Semoga walikota baru bisa menciptakan ekosistem yang mendukung entrepreneur muda," harapnya.

Mahasiswa: Butuh Transportasi Umum yang Layak

Rina Kusuma (21), mahasiswa semester akhir di Kota Agard, menambahkan bahwa transportasi umum yang layak sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan. "Setiap hari saya pakai motor ke kampus. Macet, polusi, lelah. Andai ada bus kota atau angkutan umum yang nyaman dan terjangkau, pasti banyak yang mau beralih," ungkap Rina.

Menurutnya, banyak mahasiswa yang terpaksa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak adanya alternatif transportasi umum yang memadai. Hal ini turut memperparah kemacetan di jam-jam sibuk, terutama di kawasan kampus dan perkantoran.

Warga Pinggiran: Pembangunan Harus Merata

Ahmad Firdaus (38), warga Kelurahan Margahayu yang terletak di pinggiran Kota Agard, menyoroti ketimpangan pembangunan antara pusat kota dan daerah pinggiran. "Pembangunan selama ini hanya fokus di pusat kota. Kami di pinggiran masih banyak jalan rusak, minim fasilitas kesehatan, dan sekolah yang jauh," keluhnya.

Ahmad berharap pemimpin baru dapat mendistribusikan pembangunan secara merata. "Kami juga warga Agard yang bayar pajak. Kami butuh pemimpin yang tidak lupa sama kampung-kampung pinggiran," tegasnya.

Pemilik Warung: Biaya Hidup Makin Mahal

Pak Joko (52), pemilik warung makan sederhana di kawasan Pasar Baru, mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok yang membuat biaya hidup semakin mahal. "Harga sembako naik terus, tapi daya beli masyarakat menurun. Pengunjung warung saya berkurang setengahnya dibanding dua tahun lalu," ujarnya.

Ia berharap pemimpin baru dapat mengendalikan inflasi daerah dan membantu pelaku usaha mikro seperti dirinya melalui program-program pemberdayaan yang konkret. "Jangan cuma janji saat kampanye. Kami butuh program nyata yang bisa dirasakan langsung," kata Pak Joko.

Guru Honorer: Nasib Kami Belum Jelas

Ayu Lestari (29), guru honorer di salah satu SD negeri di Kota Agard, mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib guru honorer yang masih belum jelas. "Sudah mengajar lima tahun tapi gaji masih Rp 500 ribu per bulan. Bagaimana mau hidup layak dengan gaji segitu?" tanyanya retoris.

Ayu berharap pemimpin baru dapat memperjuangkan kesejahteraan guru honorer dan mempercepat proses pengangkatan menjadi PNS. "Kami juga ingin mengabdi dengan tenang tanpa harus pusing mikirin biaya hidup sehari-hari," harapnya.

Tuntutan Warga: Pemimpin yang Turun ke Bawah

Dari berbagai wawancara dengan warga, terdapat benang merah yang sama: mereka mendambakan pemimpin yang mau mendengar dan turun langsung ke lapangan. "Jangan cuma di belakang meja. Datanglah ke pasar, ke kampung-kampung, dengarkan keluhan kami langsung," kata Ibu Mariam (55), ibu rumah tangga dari Kelurahan Sukamaju.

Menjelang hari pencoblosan yang tinggal beberapa minggu lagi, masyarakat Kota Agard berharap dapat memilih pemimpin yang tidak hanya pandai berjanji saat kampanye, tetapi juga mampu mewujudkan janji-janji tersebut menjadi program nyata yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat.

"Kami sudah terlalu sering dikecewakan. Kali ini, kami harus lebih cermat memilih. Lihat rekam jejaknya, dengarkan programnya, jangan mudah tergiur janji manis," pungkas Budi, mewakili suara generasi muda Kota Agard.